Part 1: Aku Memiliki Kecantikanku Sendiri

ditulis oleh salah satu pembaca setia Girl Effect

Tanggapan kamu (34) Part 1: Aku Memiliki Kecantikanku Sendiri

Pernah nggak kalian merasa 'kurang cantik' dihadapan orang lain? Di hadapan teman-teman sekolah, keluarga, ataupun si 'dia'?

Kadang kita sering merasa ada yang kurang dari penampilan kita. Entah itu karena pakaian yang kurang bagus rambut yang kurang tertata rapi, ataupun saat ada jerawat yang muncul di pipi atau di ujung hidung kita. Saat-saat dimana kita merasa kurang percaya diri dengan penampilan terkadang membuat diri sendiri merasa tertekan. Terlebih lagi ketika kita merasakan hal itu di sekolah, dimana kita banyak bertemu dengan orang-orang yang bisa kita pikat, namun juga bisa mengabaikan kita dan menganggap kita biasa saja.

Hal itulah yang aku rasakan saat aku memasuki tahun pertamaku di sekolah menengah. Pada saat itu aku termasuk siswi yang populer karena kepintaran dan bakatku dalam banyak bidang. Aku memiliki banyak teman baik, tetapi aku juga memiliki banyak haters yang sirik kepadaku. Awalnya aku tidak peduli dengan apa yang para haters itu katakan, tetapi amarahku mulai tersulut ketika mereka mulai menyinggung tentang penampilanku.

Wajahku memang biasa saja. Dengan mata bulat sedang, hidung kecil, dan bibir yang tipis. Bulu mataku tidak lentik, hidungku kurang mancung, kulitku agak gelap, ditambah dengan minyak dan jerawat yang bertebaran diwajahku, juga dengan lemak-lemak yang terlihat dibalik pakaianku menjadi topik materi utama perbincangan para haters. Mereka bilang diriku tidak cantik, hidungku terlihat seperti hidung babi, dan lemak yang menempel di badanku terlihat empuk untuk diduduki. Mereka bilang tak mungkin ada satupun cowok di dunia yang ingin berpacaran dengan cewek gendut dan jerawatan, ataupun dengan cewek kutu buku yang doyan makan.

Hatiku sakit sekali ketika mereka berbicara seperti itu, terlebih lagi ucapan mereka terdengar hingga seluruh kelas dan murid-murid lain mendengarnya. Tak cukup puas mereka membuatku malu, mereka juga mengatakan hal yang sama di kantin ataupun halaman sekolah ketika aku lewat dan didengar oleh hampir semua orang.

Hatiku semakin sakit ketika aku melihat cowok yang aku suka juga mendengarkan kata-kata mereka dan tidak mau lagi memandangku. Mungkin aku hanya terlihat bagaikan sampah baginya yang seorang pemain basket keren, tampan, dan pintar yang disukai oleh banyak orang. Aku begitu sakit hati, tak menyangka ejekan mereka akan melukaiku seperti ini. Dan bodohnya, aku juga merasa apa yang mereka ucapkan itu benar. Aku memang tidak cantik, dan tidak akan ada cowok yang menyukaiku.

Aku sangat membutuhkan seorang teman. Teman untuk berbagi kesedihanku. Tapi yang aku dapatkan adalah fakta bahwa teman-teman yang aku anggap baik selama ini, mereka hanya memanfaatkan kepintaranku untuk kepentingan mereka, dan tidak tulus berteman denganku.

Saat itu rasanya aku ingin lari dari kenyataan. Aku tidak ingin pergi ke ke sekolah lagi, aku tidak ingin melihat semua orang disana lagi. Sampai suatu ketika saat aku sedang sendirian di perpustakaan, aku melihat kakak kelasku. Ia terdengar sangat berprestasi dalam bidang seni di sekolah. Walaupun ia mengenakan hijab dan bahkan salah satu kakinya lebih pendek, ia tetap mempunyai 'sesuatu' di mataku, sehingga aku sangat menyukainya.

Ia menghampiriku dan tersenyum hangat kepadaku. Ia berkata bahwa ia mengetahui apa yang sedang terjadi padaku. Tak banyak yang ia katakan selain menasehatiku untuk tetap kuat menghadapi cobaan ini dan menghiburku sampai aku bisa tertawa lepas.

….berlanjut ke artikel selanjutnya, baca terus cerita lengkapnya!

  • percayadiri
  • tujuan
  • masapubertas

Bagikan tanggapanmu

Masuk untuk meninggalkan komentar

Tanggapan kamu

blackgeisha7

Selama masa sekolah aku tidak pernah terlihat cantik karena bagiku belajar adalah hal yang utama dan...

Baca selengkapnya 3 tahun, 2 bulan yang lalu
Anonim

Cerita Ini Mirip banget sama Aku :'( :(..kisah ini bisa menjadi Alesan aku untuk tetap "semangat"...

3 tahun, 8 bulan yang lalu
Tampilkan komentar