Biarkan Indonesia Menari!

Menarilah Seperti Tak Ada Hari Esok...

Tanggapan kamu (2) Biarkan Indonesia Menari!

Dalam rangka Hari Tari Internasional, kita akan mengenal lebih dekat dengan beberapa Tarian Tradisional Indonesia terbaik melalui mata generasi muda - mereka yang masih menjunjung tinggi budaya bangsa yang perlahan memudar!

Biarkan Indonesia Menari!

Pertama, kita kenalan dengan Ahya yang berusia 12 tahun dari Aceh. Dia sudah menjadi penari Saman selama 6 tahun. Saat ini dia akan masuk ke SMP terbaik di Banda Aceh dan gak aneh kalau Saman mempengaruhi kejadian itu. Ahya sudah mewakili sekolah dan kabupaten-nya sejak SD. Dia memenangkan beberapa penghargaan dan mendapatkan berbagai prestasi. Saman adalah segalanya bagi Ahya, ibunya dan komunitasnya. “Ayahnya pasti bangga padanya - seperti saya setiap hari.” kata ibunya. Tarian ini menggambarkan kegembiraan dan antusias orang Indonesia dalam menghormati Nabi Muhammad dan ditampilkan di hampir setiap peristiwa penting sebagai pembukaan atau penutup acara.

Pada tahun 2011, Saman diangkat ke “Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia” oleh UNESCO.

Biarkan Indonesia Menari!

Berikutnya adalah Ani dari Bandung. Seorang penari Jaipong berusia 15 tahun, yang telah menghidupi kembali budaya Sunda untuk menjadi tulang punggung keluarga. “Dengan Jaipong aku bisa menghasilkan makanan di atas meja buat keluarga. Aku bangga menjadi seorang penari yang bisa menghidupi keluarga dan saudaraku. Aku tau suatu hari nanti aku bisa kembali ke sekolah. Tapi saat ini, mereka membutuhkanku dan aku senang bisa membantu.” kata Ani. Ani berhenti sekolah untuk membantu keluarganya ketika dia berusia 11 tahun. Dia sekarang menjadi penari Jaipong di komunitasnya. Dia belajar tarian itu di sekolah dan selalu unggul.

Jaipong menjadi simbol seni di Jawa Barat. Sering sekali dilakukan pada festival dan acara budaya besar lainnya. Jaipong adalah campuran dari beberapa kesenian tradisional, seperti: pencak silat, wayang golek dan ketuk tilu.

Biarkan Indonesia Menari!

Sekarang, kita bertemu Sari dari Bali. Sari kecil baru akan beranjak 5 tahun. Dia selalu menari sejak ia masih bayi. Ibunya sedikit mempengaruhi hal itu. Soalnya ibu rumah tangga itu telah menari Pendet sejak ia kecil. “Saya kira, bisa jadi ini genetika. Ibu saya selalu menari (Tari Pendet) di rumah dan saya selalu mengikuti setiap gerakannya. Sekarang Sari melakukan hal yang sama dengan saya - menyalin semua yang saya lakukan.” kata ibu dari Sari. Musik tradisional Bali adalah soundtrack di rumah yang sederhana ini dan ayah Sari berhasil membuat rumah mereka menjadi cerminan Budaya Bali. Pendet mengandung keanggunan, tradisi dan rasa hormat. Gak hanya untuk para Tuhan dan dewa-dewi, tetapi juga penonton. Dengan adanya Sari kecil meniru gerakan ibunya adalah apa arti Pendet sesungguhnya. Pemuda harus bisa melihat orang tua mereka sebagai panutan.

Meskipun Pendet berasal dengan akar agama Hindu Bali - tarian ini telah menjadi salah satu tarian paling umum di pulau Dewata. Dilakukan sebagai tarian pembuka di kuil-kuil selama berbagai perayaan dan upacara.

Biarkan Indonesia Menari!

Apakah kamu siap untuk bertemu Kirai dari Padang? Dia baru akan menamplikan Tari Piring untuk pertama kalinya di pentas sekolahnya. Kirai berusia 7 tahun dan berada di kelas 2 SD. Di Padang, hampir setiap anak diajarkan Tari Piring. Bisa di rumah, di sekolah atau sekelilingnya.

Tari Piring dimulai sebagai sebuah ritual rasa syukur kepada para dewa setelah menerima panen. Ritual ini dilakukan dengan membawa sesaji berupa makanan yang kemudian diletakkan di atas piring. Setelah agama Islam masuk Minangkabau, tarian ini gak lagi digunakan sebagai ritual syukur kepada para dewa. Namun, tarian ini digunakan sebagai sarana hiburan.

Tari Piring adalah simbol dari masyarakat Minangkabau. Dengan semangat dan ketekunan tertentu - tarian ini akan selalu terlihat spektakuler.

Biarkan Indonesia Menari!

Terakhir, ada Yohana dari Papua. Dia penggemar terbesar Tarian Sajojo. Pantas diingat kalau dia akan segera beranjak 10 tahun. Keluarga dan komunitasnya sedang mengadakan pertemuan untuk membahas perayaan sederhana. Sejauh ini, Yohana gak tau tentang hal ini meskipun semua orang menyelinap keluar untuk latihan. Mereka tau persis apa yang Yohana inginkan dan telah menyiapkan semacam flashmob Sajojo sebagai kejutan. Yohana selalu terpesona dengan tarian itu dan sering mengatakan bahwa cita-citanya menjadi penari.

Nama Sajojo sendiri diambil dari judul lagu "Sajojo", yang menceritakan tentang seorang anak perempuan tercinta yang mengidolakan di desanya. Jadi, inilah Yohana - seorang gadis yang penuh kebahagiaan dan kehidupan.

Apakah kamu seorang penari? Atau kamu pernah terinspirasi oleh tari-tarian tradisional? Jangan lupa kasih tau kita ya! Sampai jumpa, Indonesia. Ingat, jangan pernah berhenti menari!

  • percayadiri
  • karir
  • tujuan

Bagikan tanggapanmu

Masuk untuk meninggalkan komentar

Tanggapan kamu

indahftrnsr

Saat SMP saya sudah mencoba menampilkan tarian Pendet, Dog-Dog Lojor, Sirih Kuning, Tari Kipas, dan...

3 tahun, 2 bulan yang lalu
Widiya369

Gak pande nari nih kak, tapi pengen banget nari, tipsnya dong kak?

3 tahun, 2 bulan yang lalu